Menulis di Tengah Kesibukan Rumah Tangga, Hingga Mata Kering Mengajarkan Arti Merawat Diri
Pagi bagi sebagian orang dan saya salah satunya selalu dimulai lebih cepat daripada kebanyakan orang. Sebelum matahari benar-benar meninggi, kita sebagai ibu rumah tangga sudah bersih-bersih rumah dan kemudian menyiapkan sarapan.
![]() |
| linamuryani.com |
Beruntung tugas mengantar anak sekolah dan sapu rumah beserta mengepel lantai dikerjakan suami. Semua itu untuk memastikan rumah baik-baik saja sepanjang hari.
Terlebih baik saya maupun suami sehari-hari bekerja di balik laptop. Kebetulan fokus kami berdua sama, bekerja dari rumah dan menjadi penulis lepas.
Kami berdua bahu membahu mengelola belasan blog. Isinya pun macam-macam, mulai dari sekadar curhat kegiatan harian, ide dan gagasan hingga apa yang kemudian dilakukan di luar rumah.
Kerja dari Rumah Menjadi Pilihan Kami
Pekerjaan itu berawal dari hobi suami yang mana sejak zaman kuliah aktif dalam kegiatan jurnalistik. Selanjutnya setelah lulus kuliah menjadi reporter di salah satu media mainstream nasional.
Menjadi reporter rawan dengan risiko, jam kerja hampir 24 jam dan sudah hampir bisa dipastikan waktu habis di lapangan. Tak ingin berlanjut maka ia memutuskan keluar dari dunia jurnalistik dan membangun portal media online sendiri.
Kini kegiatan menulis tidak hanya dilakukan suami, saya yang setiap hari mendampingi di rumah pun pelan tapi pasti belajar menulis. Di blog linamuryani.com inilah kemudian saya bisa bercerita tentang banyak hal.
Saat sudah berada di depan laptop kegiatan ini tidak hanya berjalan satu atau dua jam tapi bisa jadi lebih dari 4 hingga 6 jam. Baik itu untuk menulis artikel, mengedit konten maupun mencari referensi yang layak dan tepat.
Bagi saya secara pribadi menulis bukan hanya sekadar mencari penghasilan tambahan. Namun menulis juga memberi ruang untuk tetap berkarya tanpa harus meninggalkan keluarga.
Mata Kering Menjadi Kondisi Tak Terhindarkan
Tak disangka kegiatan ini bukan sesuatu yang tanpa risiko yang harus dibayar. Awalnya hanya rasa tidak nyaman tapi ingat #MataSePeLeJanganSepelein. Mungkin karena paparan sinar dari laptop yang cukup lama.
Seperti orang pada umumnya rasa sepet, perih dan lelah ini dianggap sesuatu yang lumrah. Bisa jadi aktifitas berlebihan dan faktor usia.
Hari demi hari, rasa perih itu semakin sering muncul. Mata terasa seperti ada pasir yang mengganjal.
Pandangan mulai sedikit buram ketika terlalu lama menatap layar. Bahkan, saat berkedip, muncul sensasi panas yang membuat kegiatan ini harus dihentikan untuk sementara.
Ironisnya, semakin banyak order artikel yang datang, semakin lama pula tanpa sadar saya menghabiskan waktu di depan layar. Tenggelam dengan tugas yang terus menumpuk dan itu harus segera diselesaikan.
Suatu malam, saat menyelesaikan artikel terakhir, Saya merasa mata begitu kering hingga sulit membuka kelopak mata dengan nyaman. Untuk sesaat harus menghentikan pekerjaan lebih awal dan mencari solusi.
Insto Dry Eyes Solusi Tepat
Dari berbagai informasi yang saya baca di internet, saya menemukan bahwa terlalu lama menatap layar komputer dapat membuat frekuensi berkedip berkurang. Padahal, berkedip memiliki peran penting dalam menyebarkan lapisan air mata ke seluruh permukaan mata.
Ketika frekuensi berkedip menurun, air mata lebih cepat menguap sehingga mata menjadi kering. Selain di depan layar yang intens, ruangan ber-AC, kurang istirahat, dan kelelahan juga dapat memperparah kondisi tersebut.
Saat mengalami mata kering, gejalanya ternyata bukan hanya mata terasa kering. Sebagian orang juga merasakan mata perih, seperti berpasir, mudah lelah, terasa panas hingga mata berair sebagai respons iritasi.
Semua gejala mata kering itu hampir saya rasakan dan berdasar informasi yang valid maka tetes mata Insto bisa menjadi alternatif atau solusi cepat. Bagaimana kemudian tetes mata ini mampu mengembalikan kondisi mata agar tetap baik-baik saja.
Setelah itu saya pun rutin menggunakan dan menyediakan stok tetes mata khususnya INSTO DRY EYES. Merasakan dampak baik yang langsung bisa dirasakan dan menjaga mata tetap baik-baik saja menjadi alasan tetes mata ini harus ada di rumah.
Yang paling penting dan saya sadari adalah kesehatan mata bukan lagi sebagai masalah yang sepele. Bayangkan bila kemudian terjadi penurunan kualitas mata tentu ini akan menjadi kerugian yang luar biasa.
Dampak yang akan langsung terlihat tentu saja produktivitas dalam menulis akan menurun. Atau bisa jadi malah kegiatan ini harus dihentikan total karena kondisi yang tidak memadai.
Saran saja bagi siapa saja yang sehari-hari bekerja di depan layar baik itu laptop, tablet maupun smartphone untuk lebih hati-hati dalam menjaga kesehatan diri. Jangan sampai abai bila kemudian terjadi mata kering dan harus segera ada solusi.
Ingat bila mulai merasakan mata perih, kering, atau seperti ada benda asing di dalam mata, jangan langsung mengabaikan. Cobalah mengatur waktu penggunaan layar, lebih sering berkedip, beristirahat secara berkala, memenuhi kebutuhan cairan tubuh, serta menggunakan tetes mata #InstoDryEyes untuk membantu menjaga kelembabannya.
Selanjutnya bila keluhan tidak kunjung membaik, semakin berat, atau disertai nyeri hebat maupun penurunan penglihatan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter mata. Tujuannya tentu saja untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Mata bukan hanya untuk melihat keindahan dunia akan tetapi juga menjadi jendela bagi setiap ide, cerita, dan mimpi yang ingin diwujudkan. Merawat mata dengan #BebasMataKering tak ubahnya investasi kecil yang akan memberikan manfaat besar, terutama bagi mereka yang menggantungkan produktivitas pada layar setiap hari.

Posting Komentar untuk "Menulis di Tengah Kesibukan Rumah Tangga, Hingga Mata Kering Mengajarkan Arti Merawat Diri"